Cinta adalah purba. Dia dimakan tahun, dihabisi oleh senja,
tetapi tetap saja bertahan untuk tak menua. Cinta adalah purba, tema itu-itu
saja yang terus mengabadi dalam cerita. Kau bisa menemukan cinta dalam cerita
paling tua, di tiap belahan bumi mana saja. Cinta seperti terserak dan setiap
orang memungutnya dengan bahagia. Dari dongeng naif Cinderella, kisah tentang
Rama dan Sita, hingga cerita panjang tentang Paris dan Helene dalam perang Troya, dan terakhir kisahku "Hiras Oskar mengejar cinta Bidadari" :D.
kau menemukan pemicu yang sama,
cinta. Mitologi dari seluruh dunia,
cerita rakyat dari seluruh pelosok-pelosok tak bernama, semua mengirimkan kisah
yang sama purbanya.
Namun, kau juga tahu
itu benar—yang dikatakan orang-orang—bahwa cinta tak melulu tentang langit biru
dan matahari yang teduh. Cinta bukan hanya gula-gula manis dalam mimpi
kanak-kanak. Dan, tak sekadar tentang berjalan
bersisian dengan hati berirama bersahutan. Cinta mampu menjelma gulita, sampai
kau merasa sesak karena tak bisa menebak arahnya. Dan, tentu saja, cinta sering
kali malah membuatmu menyesali akan keberadaannya. Cinta akan membuat hatimu
patah sehingga melihat warna saja kau akan merasa susah.
Lalu, bagaimana kau melewatkan hari saat cintamu tak juga
sampai? Saat hatimu memilih untuk terus patah? Apakah kau akan tetap memaksa
memiliki cintamu dengan cara apa pun? Mungkin, kau menginginkan dirimu menjelma
sebatang pohon, yang menyetia sepanjang musim, menunggu cintamu kembali untuk
sekadar menyapa. Seperti cinta, hati yang patah bisa juga membuatmu bergerak ke
segala arah, melakukan hal-hal yang selama ini tak pernah kau sangka.
Dan, hati yang patah, jantung yang berdebar dengan rasa nyeri
adalah paket yang kau terima saat kau berani untuk jatuh cinta.
Seperti itulah yang ditawarkan Bara dalam buku terbarunya. Sekumpulan
kisah cinta dengan sekumpulan hati yang bersiap kapan pun patah. Bara, meski
mengangkat tema—yang kita sebut itu-itu saja—mampu mengajak pembaca larut dalam
emosi di tiap-tiap ceritanya. Ini kali pertama saya bekerja sama dengan Bara,
dan dengan senang hati saya bilang, saya terpesona dengan cara bertuturnya. Bara
menunjukkan kalau cara bertuturnya adalah cara bertutur seseorang dengan latar
membaca yang banyak. Pilihan katanya bernas, menunjukkan kalau ia adalah seorang
pembelajar yang rajin. Penulis yang terbuka dengan jenis bacaan apa saja. Ia
menyerap, lalu mengeluarkannya lagi dalam cerita yang tak kalah menarik. Begitulah
bukan seharusnya seorang penulis yang baik? Menyimpan informasi yang ia baca,
mengendapkannya, lalu mengeluarkannya dengan caranya sendiri.
Dalam buku Jatuh Cinta
Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, Bara akan menyuguhimu cinta dengan berbagai metafora.
Namun, hati-hatilah karena dalam ceritanya ini, kau juga akan berkali-kali
merasa patah hati. Ya patah hati, patah hati yang sama seperti saat kau merasa
jantungmu berdetak dalam rasa nyeri, dengan kenangan yang menerormu setiap hari.
Dan, rindu yang ingin kau gerus karena terus memanipulasi hati. Namun, itu
risiko saat kau ingin bicara cinta, bukan?
Bara membuatmu memilih untuk jatuh cinta dengan berbagai alternatif
cara. Dalam “Orang yang Paling Mencintaimu”, seorang laki-laki memilih untuk
memiliki perempuan yang ia cinta dengan cara yang paling tidak kau sangka. Kau
akan dibuat berpikir ulang tentang makna cinta yang selama ini telah kau kenal.
Sementara, dalam “Seribu Matahari untuk Ariyani,” kau menemukan kisah sedih
dalam cinta yang paling setia. Kau akhirnya tahu bahwa setia dan cinta tak akan
selalu berjalan beriring bersama. Dan, jangan lewatkan, “Seorang Perempuan di
Loftus Road,”—seorang perempuan yang bisa saja mungkin menjelma dirimu.
Berhari-hari menghabiskan harap dan tanya, hanya untuk menunggu cintamu
menyapa. Cinta memang kadang membuatmu menyedihkan, bukan?
Beberapa orang percaya, saat patah hati, kau akan menulis
lebih banyak. Saya pun juga percaya itu. Patah hati membuatmu bisa produktif
dan kadang-kadang menemukan cerita yang semula tak tampak saat kau jatuh cinta.
Saya tak tahu, dan tak bisa menebak, apakah Bara sedang patah hati saat menulis
kisah-kisah cintanya. Namun, jelas, ia sangat produktif dan itu membuat bukunya
terasa bercita rasa dan kaya.
Bagaimana dengan dirimu? Jika kau disuruh memilih, bagaimana
caramu menghadapi patah hati? Tulis tip-mu di kolom komentar, dan untuk
menghiburmu akan saya pilih satu tip yang akan mendapatkan satu eksemplar buku
Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri.


0 komentar:
Posting Komentar